Home Urban UpdateTomTom Traffic: Bandung Jadi Kota Termacet di Indonesia, Kalahkan Jakarta

TomTom Traffic: Bandung Jadi Kota Termacet di Indonesia, Kalahkan Jakarta

by Ikon logo megapolitanM Hamz
Published: Updated:
A+A-
Reset

Megapolitan.ID | Kota Bandung dinobatkan sebagai kota dengan tingkat kemacetan tertinggi di Indonesia berdasarkan laporan terbaru TomTom Traffic Index 2025.

Data yang dirilis pada Jumat (4/7/2025) menunjukkan rata-rata waktu tempuh di Bandung mencapai 33 menit untuk setiap 10 kilometer perjalanan, naik 30 detik dibandingkan tahun sebelumnya.

Laporan ini menempatkan Bandung di peringkat ke-12 kota termacet di dunia, mengungguli kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti Medan, Palembang, Surabaya, dan bahkan Jakarta.

TomTom Traffic Index merupakan pemantauan global terhadap 501 kota di 62 negara dan enam benua, dengan analisis yang didasarkan pada waktu tempuh rata-rata dan tingkat kemacetan selama setahun penuh.

“Bandung menempati peringkat ke-12 dunia sebagai kota termacet,” demikian tertulis dalam laporan resmi TomTom Traffic.

Daftar Kota Termacet di Indonesia versi TomTom Traffic 2025:

  • Bandung: 33 menit/10 km — Peringkat 12 dunia
  • Medan: 32 menit/10 km — Peringkat 15 dunia
  • Palembang: 28 menit/10 km — Peringkat 53 dunia
  • Surabaya: 27 menit/10 km — Peringkat 70 dunia
  • Jakarta: 26 menit/10 km — Peringkat 90 dunia

Perbedaan mencolok terlihat saat jam sibuk. Di Bandung, waktu tempuh bisa melonjak hingga 1 jam 15 menit hanya untuk jarak 10 km, sebuah indikator nyata dari kemacetan ekstrem yang terjadi di pusat kota hingga jalur-jalur penyangga.

Jakarta Mulai Menunjukkan Perbaikan

Meski selama ini dikenal sebagai kota termacet, Jakarta justru menunjukkan penurunan signifikan dalam waktu tempuh.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa penurunan tingkat kemacetan di Ibu Kota adalah hasil dari peningkatan sistem transportasi publik yang terus dioptimalkan.

“Peningkatan fasilitas transportasi umum, khususnya dengan hadirnya Transjabodetabek, sangat membantu mengurangi kemacetan,” ungkap Pramono.

Pemprov DKI Jakarta saat ini tengah melakukan evaluasi dan simulasi untuk menambah rute Transjabodetabek, terutama pada jalur padat atau kawasan yang memiliki permintaan tinggi.

Konektivitas antarkota dinilai sebagai kunci dalam mengalihkan masyarakat dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.

“Yang penting sekarang adalah bagaimana konektivitas antarmoda bisa menjangkau lebih banyak warga, dari manapun ke Jakarta,” tegasnya.

Target dan Arah Kebijakan Transportasi Jakarta

Gubernur Pramono juga mengklaim bahwa dari sisi kebersihan, kenyamanan, dan kerapian, transportasi umum Jakarta sudah tidak kalah dari kota-kota besar dunia.

Namun, ia mengakui bahwa konektivitas transportasi publik Jakarta belum sepenuhnya merata. Oleh karena itu, pengembangan rute, integrasi moda, serta penambahan armada akan terus diakselerasi sepanjang tahun ini.

“Kami targetkan pada akhir 2025, pengguna transportasi umum Jakarta mencapai 31 persen dari total pergerakan warga,” tutupnya. (*)

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

Baca Artikel Lain